SELAMATKAN ANAK-ANAK INDONESIA DARI BAHAYA ROKOK !

Yuk ikut berpartisipasi di hari Anti Tembakau Sedunia 31 Mei !


Seperti yang kita ketahui, setiap tanggal 31 Mei diperingati dengan hari tembakau sedunia. Yuk kita ikut sukseskan hari anti tembakau tersebut.

Bagi para perokok aktif, dimohon untuk tidak merokok di tempat umum yaaa, apalagi jika disekitar Anda ada anak kecil. Bagi perokok pasif, bisa tolong mengingatkan para perokok agar tidak merokok di tempat umum dan juga di depan anak-anak.

Yuk jadikan diri kita sebagai masyarakat yang bersahabat, buat kluarga kita dan juga buat anak-anak Indonesia :)



Salam SAIBAROK !

43 Juta Anak Indonesia Hidup Dengan Perokok Aktif


Sebanyak 43 juta anak Indonesia saat ini hidup dengan perokok aktif. “Mereka hidup satu rumah, sehingga terpaksa jadi perokok pasif,” kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih di kantornya, Kamis (27/5).

Padahal, menurut Endang, anak-anak perokok pasif sangat berisiko mengalami gangguan kesehatan mulai dari gangguan pertumbuhan, bronkitis, asma,dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Jenis-jenis penyakit tersebut menyebabkan kesehatan anak akan menurun ketika dewasa.

Sebab, kata Endang, Asap rokok yang berasal dari ujung rokok yang terbakar, Ia menjelaskan, tiga kali lebih berbahaya dari asap rokok utama yang dihisap perokok.

Endang mengungkapkan saat ini Indonesia menjadi konsumen rokok ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan India. "Separuh lebih (57 persen) rumah tangga di Indonesia mempunyai sedikitnya satu perokok," kata Endang. Parahnya 91,8 persen perokok menyemburkan nikotinnya di rumah.

Sebab itu, Endang menghimbau para perokok menghentikan kebiasaannya pada Hari Anti Tembakau Se-dunia pada 31 Mei mendatang. "Saya menghimbau agar tidak merokok di tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja, tempat ibadah dan juga rumah," ujar dia.


source: tempointeraktif.com

Kemenkes Serukan Perempuan Katakan Tak Boleh Ada Rokok di Rumah


Jakarta - Perokok baru terus meningkat mulai dari anak-anak hingga balita. Kementerian Kesehatan mengimbau perempuan untuk mengatakan tidak boleh ada rokok di lingkungan keluarga dan rumah.

"Kita prihatin sekali. Dari sisi perempuan saatnya untuk mengatakan tidak untuk merokok dan tidak boleh ada rokok dalam lingkungan keluarga dan rumah," kata Kepala Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lili Sulistiowati.

Imbauan itu disampaikan oleh Lili di sela-sela aksi peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Sabtu (29/5/2010).

Lili mengatakan, peran perempuan sangat penting di lingkungan keluarga, untuk mendidik anak-anak agar tidak sampai bersentuhan oleh rokok. Selain itu, perempuan yang memegang ekonomi keluarga.

"Bagaimana menyiapkan makanan dan minuman untuk keluarganya. Daripada diberikan rokok mending dibelikan makanan dan minuman. Sayang sekali uangnya dipakai untuk membeli rokok," ujar Lili.


source: detiknews.com

Mengapa kita lebih sayang dengan rokok kita, padahal keluarga kita jadi perokok pasif ?

ASAP rokok—juga dikenal sebagai asap tembakau lingkungan—termasuk asap yang dikeluarkan oleh perokok (asap utama) dan asap yang datang langsung dari produk tembakau yang terbakar. Ironis, sementara perokok asyik menikmati rokok, orang di sekitarnya justru tertimpa kemalangan.


Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun, termasuk benzene, carbon monoxide, chromium, cyanide, formaldehyde, lead, nickel, dan polonium. Partikel berbahaya dalam asap rokok dapat melayang di udara selama berjam-jam. Menghirup asap rokok untuk waktu singkat seperti dilakukan perokok dapat mengiritasi paru-paru dan mengurangi jumlah oksigen dalam darah. Sementara menghirupnya berkepanjangan atau menjadi perokok pasif, justru lebih berbahaya.

“Orang yang merokok adalah orang yang egois karena 70 persen asap dihirup oleh bukan perokok. Yang keluar itu justru lebih banyak. Jadi jelas, orang-orang yang berada di sekitar kita (perokok) yang paling dirugikan,” ujar Dr Aulia Sani SpJP (K), pengajar Departemen Kardiologi & Kedokteran Vaskuler FKUI dalam peluncuran kampanye Break Free bertema “Semangat Bebaskan Diri dari Jeratan Adiksi Nikotin” di The Cone, FX Lifestyle X’nter, Jakarta, Rabu (26/5/2010).

Pernyataan tersebut menegaskan, dampak merokok bukan hanya dirasakan para perokok. Risiko bagi perokok pasif ternyata lebih besar. Perokok pasif tidak hanya menghirup asap samping dari pembakaran ujung rokok, tapi juga meningkatkan risiko terkena kanker paru dan penyakit jantung sekira 20-30 persen.

Dr Aulia menjelaskan lebih lanjut bahwa ibu hamil pun dapat mengalami proses kelahiran bermasalah, bayi berat badan lahir rendah (BBLR), bayi lahir mati, ataupun bayi cacat lahir oleh karena menjadi perokok pasif sedangkan anak-anak akan lebih mudah terkena infeksi saluran pernafasan.

“Makin dini mereka (perokok) berhenti, makin baik kesehatannya. Mengapa kita lebih sayang dengan rokok kita, padahal keluarga kita jadi perokok pasif?,” pungkasnya.

source: okezone.com

Kak Seto: Industri Rokok & Pembiaran Ortu Sebabkan Balita Merokok

Jakarta - AR, bocah asal Musi Banyuasin, Sumsel, merokok sejak umur 18 bulan. Perbuatan bocah usia 2,5 tahun itu dinilai karena agresifnya industri rokok dan pembiaran dari orang tua.

"Memang inilah menunjukkan betapa agresifnya industri rokok mengkampanyekan pada anak muda, sehingga frekuensi merokok pada anak meningkat tajam," ujar Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi (Kak Seto) dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (27/5/2010).

Menurut Kak Seto, balita merokok juga dikarenakan pembiaran dari orang tua. Orang tua bahkan juga tidak merasa bersalah merokok di depan balita.

"Ini juga karena lingkungan pembiaran dari ortu. Ortu merokok di mana-mana. Iklan rokok juga di mana-mana. Bahkan konser musik ada pembagian rokok gratis," terang psikolog ini.

Maraknya merokok pada anak-anak, lanjut Kak Seto, juga didasarkan dari hasil penelitian pada 2001-2007. Jumlah anak yang merokok meningkat dari 0.5 persen menjadi 1,9 persen.

"Dari hasil penelitian 2001-2007 pada balita hingga anak umur 9 tahun naik dari 0,5 persen menjadi 1,9 persen," tandasnya.


source: detiknews.com

-------------------------------------------------------------------------------------------------

ayo para orang tua,, jangan biarkan anak anda lengah,, jangan biarkan mereka mencoba hal-hal yang tak sepatutnya mereka lakukan,, jaga dan sayangi anak2 kita :)

Inilah Tips Membantu Berhenti Merokok

1. Bersihkan rumah dari atribut-atribut rokok seperti bungkus rokok, asbak, dan korek. Lalu, ajaklah rekan-rekan sesama perokok untuk tidak merokok di depan perokok yang ingin berhenti.

2. Bersabarlah, khususnya dalam 1-2 minggu pertama. "Kemungkinan akan timbul perselisihan dengan perokok yang sedang berusaha berhenti," kata dr Bowo.

3. Berikan banyak pujian dan penghargaan kepada yang hendak berhenti merokok. "Hargai keputusan mereka yang ingin berhenti, rayakan kalau dalam 1-2 minggu mereka berhasil," tambah dr Bowo.

4. Sediakan waktu untuk mendengarkan curahan hati dan perasaan perokok yang berusaha berhenti.

5. Alihkan perhatian perokok dengan menyibukkan mereka seperti mengajak jalan-jalan atau melakukan aktivitas fisik seperti olahraga pada waktu-waktu biasanya dia merokok. "Permen dapat mengalihkan perhatian perokok saat dia enggak tau mau apa, dia makan permen," tambah dokter spesialis jantung, dr Aulia Sani.

6. Yang terpenting, yakinkanlah perokok bahwa mereka mampu berhenti atau mengurangi kebiasaan mengonsumsi nikotin.


source: kompas.com


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

so,, buat kalian para perokok aktif dan memiliki niat besar untuk berhenti merokok,, bisa dicoba nih tips-tips yang diatas, mudah-mudahan berhasil yaaa :)

Kisah Aldi, Bocah 2 Tahun Perokok Berat


salam SAIBAROK !

Tadi siang saya melihat berita di Trans TV mengenai Aldi, bocah berbadan gemuk berumur 2 tahun yang sudah menjadi perokok berat. Dalam sehari ia bisa menghabiskan 4 bungkus rokok. Tim dari stasiun TV tersebut berusaha mencari tahu kebiasaan merokok Aldi tiap harinya, dengan cara turut memantau aktivitas Aldi hari itu. Hasilnya cukup mencengangkan, ketika subuh Aldi sudah bangun dan merengek agar diberikan rokok, hingga menjelang magrib telah habis 21 batang rokok! cukup miris memang.

Hari besoknya, tim stasiun tersebut menantang Aldi, jika tidak merokok dalam sehari, maka ia akan dapat uang. Aldi menyetujui. Start jam 7 pagi, pada jam pertama Aldi masih bisa asyik dengan main bersama teman-temannya. Pada jam kedua, Aldi sudah merengek untuk diberikan rokok, ibunya membeiarkannya, akhirnya nangisnya pun menjadi-jadi, ibunya tak tega dan Aldi pun diberikan uang oleh ibunya. Hal menyedihkan lainnya adalah, biasanya anak seumuran dia jika diberi uang akan lari ke warung untuk membeli permen atau coklat, tapi Aldi tidak, dia berlari menuju penjual rokok! Namun si penjual rokok tidak serta merta memberikannya.

Aldi semakin merengek, berusaha menakiti dirinya, mengamuk, dan juga badannya melemah. Ibunya tak kuasa melihat Aldi seperti itu, akhirnya mereka berhenti dari tantangan tersebut, dan memberikan Aldi rokok kembali. Waktu tantangan yang tersisa masih sekitar 6 jam lagi. Namun sayang, Aldi sudah tidak kuat.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Saya merasa miris ketika melihat berita tersebut, hal yang dialami Aldi ini bukanlah karena faktor lingkungan semata, tetapi juga karan kesalahan ibunya. Ketika ibunya hamil muda dan ditinggal berlayar suaminya, sang ibu malah merokok, dan dia juga akan marah ketika hasratnya untuk merokok tidak dipenuhi. Dia akan merasa nyaman ketika mencium asap rokok. MUngkin inilah yang dirasakan Aldi sekarang.

Tetapi bagaimanapun hal ini tak boleh dibiarkan terjadi, Aldi harus segera bisa pulih. Alangkah lebih baik jika ia direhabilitasi seperti Sandi, bocah 4 tahun yg gemar merokok dan berkata kasar. Seharusnya ada instansi2 yang mau menolong mereka untuk bebas dari hal2 yang dapat merusak anak penerus bangsa ini.
Membuat anak untuk berhenti dari kebiasaan merokok adalah tugas orang tua, sulit memang, tapi itulah tantangan yang harus dijalani.

SELAMATKAN ANAK-ANAK INDONESIA DARI BAHAYA ROKOK !

MASIH MAU MEROKOK SETELAH MELIHAT INI?

Dari Ibu Merokok Lahirkan Anak Berandalan


Para wanita hamil yang merokok mungkin akan melahirkan anak yang setelah remaja akan menjadi anak yang menimbulkan teror di lingkungan keluarga.
Psikolog yang meneliti masalah ini dari Universitas Chicago mengatakan, anak yang dilahirkan dari ibu yang perokok akan tiga sampai empat kali kemungkinannya menjadi liar, terlibat dalam tindak kejahatan.

Peneliti Lauren Wakschlag masih belum jelas secara pasti bagaimana bahan dalam rokok dan perilaku anti sosial di masa dewasa bisa saling berkaitan.

"Kami masih belum tahu apakah merokok menyebabkan masalah atau terkait dengan hal lain yang menyebabkannya," katanya.

Wakschlag dan rekan-rekannya meneliti kembali sejumlah penelitan mengenai pengaruh merokok ketika hamil pada anak-anak yang dilahirkannya. Penemuan ini diterbitkan dalam jurnal American Journal of Public Health.

Menurut laporan, antara satu hingga 16% remaja menderita penyimpangan perilaku atau perilaku antisosial, begitulah yang biasa disebut para psikolog. Masalah ini biasanya banyak terjadi pada anak laki-laki.

source: www.balita-anda.com

BAHAYA ROKOK BAGI ANAK

Meski rokok tidak ditujukan bagi anak-anak, tapi iklan dan akses membeli rokok yang mudah membuat anak tak sulit mendapatkan rokok. Efek aditif atau kecanduan rokok dapat membuat anak mengalami gangguan kesehatan serius. Perlu disadari bahwa rokok merupakan "senjata" yang sangat berbahaya bagi anak.

anak-anak merokokBerdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) 2006, tecatat 9230 iklan di media elektronik, sebanyak 68% tidak memenuhi ketentuan, dan hanya 32% yang memenuhi ketentuan. Selain itu, ada 7.000 artikel ilmiah yang membuktikan ketidakpuasaan karena rokok mendapatkan perlakuan sebagaimana layaknya barang konsumsi biasa.

Sebenarnya pemerintah telah mengajukan kejahatan kandungan rokok yang tertuang dalam pasal 2 ayat (1) UU No 19 tahun 2007 tentang cukai yang menyatakan jika barang-barang yang dapat menimbulkan dampak negatif dikenai cukai, serta dalam konsideran menimbang huruf a PP No 19 2007 yang berbunyi "Bahwa rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan mengakibatkan bahaya bagi individu dan masyarakat, oleh karena itu diperlukan upaya pengamanan".

Namun nyatanya langkah-langkah kongkret untuk mengatasi permasalahan akibat rokok belum tampak.

Persoalan tersebut, menurut Pemerhati Anak, Kak seto diperlukan upaya yang komprehensif dan niat politis (political will).

"Persoalan anak bukanlah persoalan domestik, persoalan masa depan yang yang harus dijawab dengan langkah-langkah yuridis dan politis," kata Kak Seto.

Apalagi, dia menekankan, pemerintah adalah pihak yang meratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tentang hak anak, dimana negara berkewajiban bahkan terikat secara yuridis dan politis untuk melakukan langkah-langkah strategis guna menghormati, melindungi dan memenuhi hak anak.

Dia mengungkap, salah satu indikasi tidak adanya political will pemerintah dalam upaya perlindungan anak adalah keengganan pemerintah meratifikasi Framwork Convention on Tobacco Control (FCTC) yang bertujuan untuk melindungi generasi muda.

Bahkan Road Map Industri Rokok 2007-2020 menargetkan produksi rokok hampir 260 milyar batang/tahun jelas menargetkan perokok pemula yaitu anak dan remaja untuk menyerap produksinya. Hal itu adalah ancaman serius bagi anak-anak karena ketiadaan regulasi dan peraturan yang menjamin perlindungan anak dari strategi pemasaran industri rokok.

Komnas perlindungan anak mendesak pemerintah untuk segera meratifikasi FCTC dan melakukan harmonisasi regulasi yang terkait dengan permasalahan temabakau dan rokok, mendesak pemerintah untuk melakukan pelarangan menyeluruh terhadap iklan, promosi, dan sponsorship rokok sebagai perlindungan terhadap anak.

Selain itu kebijakan Road map Industri Rokok 2007/2020 segera dianulir atau dibatalkan dan mendesak badan POM dan Komisi Penyiaran Indonesia untuk mengambil langkah-langakh tegas dan konkrit terhadap pelanggaran yang dilakukan industri rokok dalam mengiklankan produk.

"Dengan adanya kerjasama semua pihak maka kasus pelanggaran tterhadap hak anak dan kekerasan anaak dapat menghilang," pungkasnya


source: www.indofamily.net

Sandy Susanto Balita Perokok Ini Akhirnya Sembuh Total


MALANG, KOMPAS.com — Sandi Adi Susanto, anak balita dari Malang, Jawa Timur, yang dulu jago merokok dan misuh atau mengumpat dengan kata-kata jorok, dijadwalkan selesai menjalani rehabilitasi pada 19 Mei mendatang.

Sejak 13 April lalu, dia menjalani rehabilitasi dari kecanduan nikotin dan penyembuhan kebiasaan berkata kotornya di Rumah Sakit Saiful Anwar, Kota Malang. Menurut dr Mardhani Yoso Prawoto SpA (K) dari tim yang menangani Sandi, arek cilik itu sekarang sudah total berhenti merokok dan mengumpat.

"Seusai keluar dari rumah sakit, Sandi harus mendapatkan lingkungan baru yang baik sehingga tidak ada lagi gangguan dari orang-orang dewasa yang menawarinya rokok atau mengajarinya berkata jorok," kata dr Mardhani.

Menurut dr Mardhani, Sandi akan ditempatkan di lingkungan baru di kawasan Sawojajar, Kota Malang. Sementara orangtua Sandi, Mulud Riadi (50) dan Moedijati (45), mengaku senang atas kesembuhan anaknya.

"Kalau pagi sampai sore memang tidak apa-apa. Namun, kalau malam sering kangen rumah, selalu minta pulang. Alhamdulillah, Sandi dinyatakan sehat dan boleh pulang," kata Moedijati.

Kemarin sore, Sandi juga dikunjungi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar. Sandi pun diberi banyak bingkisan, mulai dari buku, permainan edukatif, sarung, dan beberapa makanan serta susu.

Linda berharap pemerintah daerah bisa memberikan perlindungan maksimal bagi anak-anak dan perempuan di bawah umur. Khusus untuk kasus Sandi, istri Agum Gumelar ini merasa senang dan berterima kasih kepada seluruh pihak terkait yang serius membantu Sandi.

Ia yakin, masih banyak kasus seperti Sandi di Indonesia yang belum tertangani.

source: http://regional.kompas.com/

-------------------------------------------------------------------------------------------------

waaaaahh Alhamdulillah kalau anak ini sudah bisa sembuh dari kebiasaan buruknya :)
mudah2an tiada lagi sandi2 berikutnya,,
mari kita jaga anak-anak Indonesia dari hal2 yang dapat merugikan mereka,, INGAT MASA DEPAN KITA ADA DI TANGAN MEREKA :)

SAVE THEM !




KPAI - Perlindungan dan Pencegahan Bahaya Merokok pada Anak

Sebuah kebijakan Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang berangkat dari UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 Pasal 44 ayat (1) Pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang komprehensif bagi anak, agar setiap anak memperoleh derajat kesehatan yang optimal sejak dalam kandungan.

Gambaran Prevalensi Perokok Usia Muda Di Indonesia Saat Ini

Bila diperhatikan dalam dua dekade terakhir ternyata prevalensi perokok usia muda atau usia pertama kali merokok meningkat.

Sebagai gambaran, akhir-akhir ini kebiasaan merokok aktif pada anak cenderung meningkat dan dimulai pada usia semakin muda. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah perokok pemula, umur 5-9 tahun, naik secara signifikan. Hanya dalam tempo tiga tahun (2001-2004) persentase perokok pemula naik dari 0,4 menjadi 2,8 persen. Berdasarkan penelitian LPKM Universitas Andalas mengenai pencegahan merokok bagi anak umur di bawah 18 tahun yang dilakukan di kota Padang menunjukkan lebih dari 50% responden memulai merokok sebelum usia 13 tahun.

Intinya, usia anak merokok telah bergeser dari usia belasan tahun, kini menjadi 5-9 tahun atau rata2 usia 7 tahun.

Bila tidak dikendalikan akan semakin banyak anak-anak yang terancam jiwanya karena rokok.

Keterkaitan Konsumsi Rokok Dengan Kemiskinan

Hubungan kemiskinan dengan merokok, terutama bagi penduduk miskin merupakan dua hal yang saling terkait dan saling mempengaruhi. Selain berpotensi besar sebagai penyebab kematian bagi perokok, seorang yang setiap hari membakar sebatang rokok berarti dia telah kehilangan kesempatan untuk membeli susu atau makanan yang bergizi bagi anaknya. Akibatnya, anak-anak dari keluarga miskin tidak dapat tumbuh dengan baik, dan kecerdasan tidak cukup berkembang, sehingga kapasitas untuk hidup lebih baik di usia dewasa sangat terbatas.

source: www.kpai.go.id

cuplikan wawancara sandy (bocah 4taun yg merokok)

ini sedikit cuplikan wawancara kepada Sandy, bocah 4 taun yg sudah merokok aktif dan berkata kasar :(

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Dewasa: Sandi nek gede dadi? (Sandi kalau sudah besar mau jadi apa?)
Sandi: Maling! (Jadi maling!)

Dewasa: Duwike digawe? (Uangnya buat apa?)
Sandi: M***lon. (Buat melacur)

Dewasa: Nang endi? (melacur di mana?)
Sandi: Ndek Dolly! (di Dolly, -lokalisasi terbesar di Surabaya)

Pria: Paling enak kecepet? (paling enak terjepit apa?)
Sandi: K***et! (terjepit alat kelamin wanita?)

Pria: Koen, Ndoly ambek Suko seneng sing endi le? (Sandi, kamu lebih suka mana, Dolly atau Suko?)
Sandi: Suko nggak enak, kandani kok. Wonge elek-elek. (Suko itu tidak enak, pelacurnya jelek-jelek)

Dewasa: Sing apik Ndoly tah? (Memangnya yang bagus itu Doly?)
Sandi: Iyo, ayu-ayu. (Iya, pelacurnya cantik-cantik)

Dewasa: Nok kono lapo engkok? (Apa yang kamu lakukan di Dolly?)
Sandi: Ng***ot!! (berhubungan badan dengan pelacur) Jawabnya sambil tertawa terbahak-bahak, berulang kali menggoyang-goyangkan pantatnya maju-mundur, memperagakan adegan suami-istri. Sandi lalu menghisap rokok dan mengepulkan asapnya dengan asyik, sehingga kepulan asap rokok itu membentuk bulatan-bulatan ke atas. Perbuatan ini dia lakukan berkali-kali. Sementara sejumlah orang dewasa di sekitarnya tertawa terbahak-bahak kegirangan.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Astagfirullah, na’udzubillah min dzalik. Mudah-mudahan jangan ada lagi Sandi-Sandi lain dalam keluarga dan lingkungan kita.

SELAMATKAN ANAK-ANAK INDONESIA DARI BAHAYA ROKOK !

Preman Masa Depan: Balita 4 Tahun Sudah Doyan Merokok dan 'Melacur'


SURABAYA (voa-islam.com) – Fenomena Sandi, preman balita empat tahun asal Jawa Timur ini sungguh memprihatinkan. Meski bicaranya masih cadel, tidak bisa mengucapkan huruf “r,” Sandi sudah jadi perokok berat dan fasih ngobrol tentang seksual. Ia hafal tempat-tempat pelacuran, bahkan sesuai pengakuannya, preman bocah ini sudah bisa membanding-bandingkan "kelas pelacur" di beberapa lokalisasi, lantaran sering "menggauli" pelacur layaknya hubungan suami-istri. Para pemimpin, ulama dan seluruh rakyat Indonesia harus bertanggungjawab atas lahirnya Sandi, sang preman bocah di kota besar berjuluk Kota Pahlawan itu.

Sepekan ini, dunia maya di tanah air, khususnya Surabaya, digegerkan oleh beredarnya video di Youtube dan berbagai blog, bertajuk “Sandi si Preman Macan Paling Keren se-Indonesia, Preman Masa Depan.” Video berdurasi 3.56 detik yang tayang sejak Ahad (28/3/2010) ini menampilkan seorang bocah 4 tahun yang gemar merokok, doyan melacur, fasih bicara cabul bahkan mahir memperagakan adegan hubungan badan. Bak peneliti, preman bocah ini bahkan bisa menilai dan membandingkan beberapa tempat lokalisasi di Surabaya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

STOP THIS GUYS ! SAVE OUR CHILDREN ! OUR FUTURE IS ON THEIR HANDS !


source: www.voa-islam.com