SAIBAROK !

SELAMATKAN ANAK-ANAK INDONESIA DARI BAHAYA ROKOK !

Yuk ikut berpartisipasi di hari Anti Tembakau Sedunia 31 Mei !


Seperti yang kita ketahui, setiap tanggal 31 Mei diperingati dengan hari tembakau sedunia. Yuk kita ikut sukseskan hari anti tembakau tersebut.

Bagi para perokok aktif, dimohon untuk tidak merokok di tempat umum yaaa, apalagi jika disekitar Anda ada anak kecil. Bagi perokok pasif, bisa tolong mengingatkan para perokok agar tidak merokok di tempat umum dan juga di depan anak-anak.

Yuk jadikan diri kita sebagai masyarakat yang bersahabat, buat kluarga kita dan juga buat anak-anak Indonesia :)



Salam SAIBAROK !

43 Juta Anak Indonesia Hidup Dengan Perokok Aktif


Sebanyak 43 juta anak Indonesia saat ini hidup dengan perokok aktif. “Mereka hidup satu rumah, sehingga terpaksa jadi perokok pasif,” kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih di kantornya, Kamis (27/5).

Padahal, menurut Endang, anak-anak perokok pasif sangat berisiko mengalami gangguan kesehatan mulai dari gangguan pertumbuhan, bronkitis, asma,dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Jenis-jenis penyakit tersebut menyebabkan kesehatan anak akan menurun ketika dewasa.

Sebab, kata Endang, Asap rokok yang berasal dari ujung rokok yang terbakar, Ia menjelaskan, tiga kali lebih berbahaya dari asap rokok utama yang dihisap perokok.

Endang mengungkapkan saat ini Indonesia menjadi konsumen rokok ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan India. "Separuh lebih (57 persen) rumah tangga di Indonesia mempunyai sedikitnya satu perokok," kata Endang. Parahnya 91,8 persen perokok menyemburkan nikotinnya di rumah.

Sebab itu, Endang menghimbau para perokok menghentikan kebiasaannya pada Hari Anti Tembakau Se-dunia pada 31 Mei mendatang. "Saya menghimbau agar tidak merokok di tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja, tempat ibadah dan juga rumah," ujar dia.


source: tempointeraktif.com

Kemenkes Serukan Perempuan Katakan Tak Boleh Ada Rokok di Rumah


Jakarta - Perokok baru terus meningkat mulai dari anak-anak hingga balita. Kementerian Kesehatan mengimbau perempuan untuk mengatakan tidak boleh ada rokok di lingkungan keluarga dan rumah.

"Kita prihatin sekali. Dari sisi perempuan saatnya untuk mengatakan tidak untuk merokok dan tidak boleh ada rokok dalam lingkungan keluarga dan rumah," kata Kepala Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lili Sulistiowati.

Imbauan itu disampaikan oleh Lili di sela-sela aksi peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Sabtu (29/5/2010).

Lili mengatakan, peran perempuan sangat penting di lingkungan keluarga, untuk mendidik anak-anak agar tidak sampai bersentuhan oleh rokok. Selain itu, perempuan yang memegang ekonomi keluarga.

"Bagaimana menyiapkan makanan dan minuman untuk keluarganya. Daripada diberikan rokok mending dibelikan makanan dan minuman. Sayang sekali uangnya dipakai untuk membeli rokok," ujar Lili.


source: detiknews.com

Mengapa kita lebih sayang dengan rokok kita, padahal keluarga kita jadi perokok pasif ?

ASAP rokok—juga dikenal sebagai asap tembakau lingkungan—termasuk asap yang dikeluarkan oleh perokok (asap utama) dan asap yang datang langsung dari produk tembakau yang terbakar. Ironis, sementara perokok asyik menikmati rokok, orang di sekitarnya justru tertimpa kemalangan.


Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun, termasuk benzene, carbon monoxide, chromium, cyanide, formaldehyde, lead, nickel, dan polonium. Partikel berbahaya dalam asap rokok dapat melayang di udara selama berjam-jam. Menghirup asap rokok untuk waktu singkat seperti dilakukan perokok dapat mengiritasi paru-paru dan mengurangi jumlah oksigen dalam darah. Sementara menghirupnya berkepanjangan atau menjadi perokok pasif, justru lebih berbahaya.

“Orang yang merokok adalah orang yang egois karena 70 persen asap dihirup oleh bukan perokok. Yang keluar itu justru lebih banyak. Jadi jelas, orang-orang yang berada di sekitar kita (perokok) yang paling dirugikan,” ujar Dr Aulia Sani SpJP (K), pengajar Departemen Kardiologi & Kedokteran Vaskuler FKUI dalam peluncuran kampanye Break Free bertema “Semangat Bebaskan Diri dari Jeratan Adiksi Nikotin” di The Cone, FX Lifestyle X’nter, Jakarta, Rabu (26/5/2010).

Pernyataan tersebut menegaskan, dampak merokok bukan hanya dirasakan para perokok. Risiko bagi perokok pasif ternyata lebih besar. Perokok pasif tidak hanya menghirup asap samping dari pembakaran ujung rokok, tapi juga meningkatkan risiko terkena kanker paru dan penyakit jantung sekira 20-30 persen.

Dr Aulia menjelaskan lebih lanjut bahwa ibu hamil pun dapat mengalami proses kelahiran bermasalah, bayi berat badan lahir rendah (BBLR), bayi lahir mati, ataupun bayi cacat lahir oleh karena menjadi perokok pasif sedangkan anak-anak akan lebih mudah terkena infeksi saluran pernafasan.

“Makin dini mereka (perokok) berhenti, makin baik kesehatannya. Mengapa kita lebih sayang dengan rokok kita, padahal keluarga kita jadi perokok pasif?,” pungkasnya.

source: okezone.com

Kak Seto: Industri Rokok & Pembiaran Ortu Sebabkan Balita Merokok

Jakarta - AR, bocah asal Musi Banyuasin, Sumsel, merokok sejak umur 18 bulan. Perbuatan bocah usia 2,5 tahun itu dinilai karena agresifnya industri rokok dan pembiaran dari orang tua.

"Memang inilah menunjukkan betapa agresifnya industri rokok mengkampanyekan pada anak muda, sehingga frekuensi merokok pada anak meningkat tajam," ujar Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi (Kak Seto) dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (27/5/2010).

Menurut Kak Seto, balita merokok juga dikarenakan pembiaran dari orang tua. Orang tua bahkan juga tidak merasa bersalah merokok di depan balita.

"Ini juga karena lingkungan pembiaran dari ortu. Ortu merokok di mana-mana. Iklan rokok juga di mana-mana. Bahkan konser musik ada pembagian rokok gratis," terang psikolog ini.

Maraknya merokok pada anak-anak, lanjut Kak Seto, juga didasarkan dari hasil penelitian pada 2001-2007. Jumlah anak yang merokok meningkat dari 0.5 persen menjadi 1,9 persen.

"Dari hasil penelitian 2001-2007 pada balita hingga anak umur 9 tahun naik dari 0,5 persen menjadi 1,9 persen," tandasnya.


source: detiknews.com

-------------------------------------------------------------------------------------------------

ayo para orang tua,, jangan biarkan anak anda lengah,, jangan biarkan mereka mencoba hal-hal yang tak sepatutnya mereka lakukan,, jaga dan sayangi anak2 kita :)

Inilah Tips Membantu Berhenti Merokok

1. Bersihkan rumah dari atribut-atribut rokok seperti bungkus rokok, asbak, dan korek. Lalu, ajaklah rekan-rekan sesama perokok untuk tidak merokok di depan perokok yang ingin berhenti.

2. Bersabarlah, khususnya dalam 1-2 minggu pertama. "Kemungkinan akan timbul perselisihan dengan perokok yang sedang berusaha berhenti," kata dr Bowo.

3. Berikan banyak pujian dan penghargaan kepada yang hendak berhenti merokok. "Hargai keputusan mereka yang ingin berhenti, rayakan kalau dalam 1-2 minggu mereka berhasil," tambah dr Bowo.

4. Sediakan waktu untuk mendengarkan curahan hati dan perasaan perokok yang berusaha berhenti.

5. Alihkan perhatian perokok dengan menyibukkan mereka seperti mengajak jalan-jalan atau melakukan aktivitas fisik seperti olahraga pada waktu-waktu biasanya dia merokok. "Permen dapat mengalihkan perhatian perokok saat dia enggak tau mau apa, dia makan permen," tambah dokter spesialis jantung, dr Aulia Sani.

6. Yang terpenting, yakinkanlah perokok bahwa mereka mampu berhenti atau mengurangi kebiasaan mengonsumsi nikotin.


source: kompas.com


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

so,, buat kalian para perokok aktif dan memiliki niat besar untuk berhenti merokok,, bisa dicoba nih tips-tips yang diatas, mudah-mudahan berhasil yaaa :)

Kisah Aldi, Bocah 2 Tahun Perokok Berat


salam SAIBAROK !

Tadi siang saya melihat berita di Trans TV mengenai Aldi, bocah berbadan gemuk berumur 2 tahun yang sudah menjadi perokok berat. Dalam sehari ia bisa menghabiskan 4 bungkus rokok. Tim dari stasiun TV tersebut berusaha mencari tahu kebiasaan merokok Aldi tiap harinya, dengan cara turut memantau aktivitas Aldi hari itu. Hasilnya cukup mencengangkan, ketika subuh Aldi sudah bangun dan merengek agar diberikan rokok, hingga menjelang magrib telah habis 21 batang rokok! cukup miris memang.

Hari besoknya, tim stasiun tersebut menantang Aldi, jika tidak merokok dalam sehari, maka ia akan dapat uang. Aldi menyetujui. Start jam 7 pagi, pada jam pertama Aldi masih bisa asyik dengan main bersama teman-temannya. Pada jam kedua, Aldi sudah merengek untuk diberikan rokok, ibunya membeiarkannya, akhirnya nangisnya pun menjadi-jadi, ibunya tak tega dan Aldi pun diberikan uang oleh ibunya. Hal menyedihkan lainnya adalah, biasanya anak seumuran dia jika diberi uang akan lari ke warung untuk membeli permen atau coklat, tapi Aldi tidak, dia berlari menuju penjual rokok! Namun si penjual rokok tidak serta merta memberikannya.

Aldi semakin merengek, berusaha menakiti dirinya, mengamuk, dan juga badannya melemah. Ibunya tak kuasa melihat Aldi seperti itu, akhirnya mereka berhenti dari tantangan tersebut, dan memberikan Aldi rokok kembali. Waktu tantangan yang tersisa masih sekitar 6 jam lagi. Namun sayang, Aldi sudah tidak kuat.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Saya merasa miris ketika melihat berita tersebut, hal yang dialami Aldi ini bukanlah karena faktor lingkungan semata, tetapi juga karan kesalahan ibunya. Ketika ibunya hamil muda dan ditinggal berlayar suaminya, sang ibu malah merokok, dan dia juga akan marah ketika hasratnya untuk merokok tidak dipenuhi. Dia akan merasa nyaman ketika mencium asap rokok. MUngkin inilah yang dirasakan Aldi sekarang.

Tetapi bagaimanapun hal ini tak boleh dibiarkan terjadi, Aldi harus segera bisa pulih. Alangkah lebih baik jika ia direhabilitasi seperti Sandi, bocah 4 tahun yg gemar merokok dan berkata kasar. Seharusnya ada instansi2 yang mau menolong mereka untuk bebas dari hal2 yang dapat merusak anak penerus bangsa ini.
Membuat anak untuk berhenti dari kebiasaan merokok adalah tugas orang tua, sulit memang, tapi itulah tantangan yang harus dijalani.

SELAMATKAN ANAK-ANAK INDONESIA DARI BAHAYA ROKOK !